![]() |
| Turing Teterusan |
Kamis, 13 Agustus 2015
Tulisan-tulisan Aksara Minahasa/Malesung dan Simbol-Simbol Minahasa
Selasa, 12 Agustus 2014
SESAT
[sebuah cerpen]
Oleh Iswan Sual
Tiba-tiba
telpon genggam Valeri menggelinjang dan lompat-lompat di atas meja belajarnya. Masih disebut meja
belajar lantaran meski sudah lama tamat kuliah, di meja itu masih menumpuk
buku. Setiap bulan bahkan bertambah. Setiap bulan sebagian gaji Valeri ditukar
dengan buku-buku.
Untung
saja cepat dia melihatnya. Kalau tidak
pasti badan ponsel tersebut telah terpisah-pisah begitu membentur ubin lantai kamar berwarna putih di
kamarnya. Panggilan telpon sebenarnya mau dia acuhkan saja. Itu sebelum dia
melihat nama pemanggil yang tertera di layarnya.
“Halo…ngana
ja kerja ato?”
“Halo….
Bicara jo. Kyapa?”
“Napa
mama mo bicara kata.”
Mendadak
dinding dada Valeri seperti ditendang-tendang dari dalam. Rasanya mau jebol dan
ambrok. Kok, mama mau bicara? Tentang apa? Apa sesuatu yang luarbiasa telah
terjadi? Pertanyaan itu memberondongnya. Enggan rasanya dia menekan tombol
terima telpon sebelum siap sedia dengan kenyataan yang bakal masuk di
telinganya sebentar lagi. Ada apa ya? Apa terjadi sesuatu pada ayah? Apa
penyakitnya kambu lagi? Pertanyaan-pertanyaan menggempurnya kembali. Valeri memang
selalu dak dik duk bila ada panggilan masuk di telpon genggamnya. Dan biasanya
pikirannya langsung ke ayahnya. Gelagatnya seperti itu bukan tanpa alasan.
Tahun lalu ayahnya terserang penyakit. Penyakit yang merengut berjuta-juta
rupiah. Penyakit yang membuat ayahnya tumbang seketika di saat sedang nonton adu
tinju di tv. Namun sayang penyakit itu tak ditemukan pihak rumah sakit. Macam-macam
cara telah dilakukan. Scanning, tes
urin, periksa darah, dan lain-lain. Semua itu tak membuahkan hasil. Tapi para
dokter, perawat dan semua di perusahaan sakit itu meraup keuntungan dari rawat
inap tiga hari ayah Valeri. Biasanya orang kampung, bila sudah begitu, pasti
akan cepat-cepat pulang dan mencari kambing hitam. Mereka akan mencoba-coba
mengingat orang-orang yang pernah berselisih paham lalu menuduh orang itu sudah
melakukan praktik madiara. Tapi
valeri tidak. Dia tahu penyakit ayahnya tak bisa terdeteksi lantaran alat-alat
canggih sedang disimpan khusus untuk orang-orang kaya saja. Atau lantaran
kedunguan para dokter yang dapat status dokter karena orang tua mereka hartanya
banyak sehingga korang taambor-ambor. Yang mendapat kartu sehat pun tidak
berarti dirawat cepat. Mereka hanya menjadi tujuan praktek para mahasiswa yang
sebentar lagi jadi dokter.
“Haaaaalo!”
“Kalu
bole, ngana pulang skarang. Napa so hebo di sini, ngana kata so ja sesatkan
orang!”
Entah
apa yang Valeri ujarkan selanjutnya. Suara ibunya kini terdengar seolah bunyi
NGIIIIING panjang di telinganya. Entah apa jawab yang diberikannya sewaktu
hendak akhiri pembicaraan. Kini Valeri hanya terbelalak memandang tembok cat
ungu di depannya. Rasa kantuk telah minggat sejauh-jauhnya. Tak tahu dimana
rimbanya. Dia sekarang ini memikirkan satu nama. Calvin. Calvin adalah seorang
pendeta yang pernah bertugas di gereja di desanya. Sekarang telah pindah ke
jemaat Karowa. Tapi, rasanya dia tak percaya. Kok, seorang pendeta bisa gegabah
dan tolol seperti itu? Kok,tega-teganya dia menggosipkan anggota jemaatnya?
Valeri mengingat satu nama lagi yang disebut ibunya. Katanya dia juga seorang
pendeta dan turut andil dalam penyebaran desas-desus. Hanya, kelaminnya
perempuan. Valeri memaksa otaknya bekerja untuk mengingat nama itu. Saraf-saraf
yang rusak akibat terhenyak oleh berita
buruk yang didengarnya tadi tetap saja dipaksanya berfungsi untuk mengingat
satu nama. Meeeeerrrcy. Ya itu namanya. Nama yang kadang-kadang disalahucapnya
menjadi Merry dulu tatkala bertemu dengan
si ibu pendeta. Dia memang sering menghindari ibu pendeta itu gara-gara sering
memaksanya untuk segera disidi, dijadikan jemaat penuh sehingga bisa
menggunakan hak pilih dalam suksesi diaken dan syamas. Kata ibunya ibu pendeta
ini diberitahu pendeta Calvin bahwa Valeri telah menjadi orang sesat dan sedang
menyesatkan orang.
Siang
itu juga Valeri langsung membuka akun media sosialnya hanya untuk melihat-lihat
apakah si Calvin itu sedang online. Dan
ternyata Valeri beruntung. Di sudut kanan halaman akunnya tertera nama Calvin
Wuner. Dulu salah seorang teman Valeri yang kebetulan sama-sama kuliah dengan
Calvin di UKIT pernah berujar, “Calvin
itu pengkhianat. Dulu dia yang pimpin
demo mahasiswa melawan GMIM yang memaksakan untuk mengubah YPTK mejadi
Wenas. Kami mendukungnya. Karena kami percaya dia. Tapi, ternyata dia itu
bunglon dan pengkhianat. Diam-diam dia melompat ke kandang sebelah dengan tipu
muslihat. Pasti dia menyogok. Lebih baik
aku begini saja namun tetap pada pendirian daripada menjadi pendeta dari hasil
sogokan.” Valeri terheran-heran mendengar itu. Dan tentu saja tak percaya
dengan kata-kata temannya itu. Wajar bila dia begitu, pikir Valeri.Dia tentu
stress lantaran GMIM tak mau menerima
mereka, lulusan YPTK, untuk menjalani masa vikariat di jemaat GMIM.
Rasa
enggan dan malu menghalangi jari-jari Valeri untuk mengetik sebaris pertanyaan
di kotak obrolan media sosial. Rasa itu tentu karena gelar pendeta yang melekat
pada nama itu. Orang-orang kini kebanyakan tidak takut berbuat dosa meski
mereka tahu mata Tuhan ada dimana-mana. Namun, para jemaat takut berbuat hal
demikian di depan pendeta. Maklum, para pendeta itu adalah hamba Tuhan. Sama
seperti pemerintah yang adalah wakil Allah. Dan kadang-kadang pendeta dan pemerintah
lebih dipertuhankan daripada Tuhan itu sendiri. Para pendeta bukannya mencegah
itu malah keenakan.
Entah
roh apa yang merasuk, jari-jari tangan Valeri tiba-tiba bergelinjang di atas
papan tuts komputer portable-nya.
“Pendeta,
kyapa pendeta ja bilang kita kata so sesat deng so ja sesatkan orang?”
“Qt bilang di ajak diakusi tu pemuda. Bukan sesatkan. Mungkin ibu
yang salah membahasakan.”
“Amper satu kampung so tau bahwa kali kata kita
penyesat. Lantaran nae-nae gunung, pigi-pigi di aerjatu, dll. Tu cirita ini
hebo di skola deng di greja.”
Sejurus kemudian percakapan terhenti. Tak tahu
sebabnya. Mungkin sinyal yang kurang subur. Mungkin juga pendeta Calvin sibuk
dengan kerja mempersiapkan bahan khotbah untuk kebaktian malam nanti.
Esoknya Valeri telah berada di kampung halamannya.
Pagi-pagi sekali dia meluncur dengan sepeda motor tua bermerk Kharisma keluaran
tahun 2003. Kepulangannya bukan untuk mengamuk atau hal-hal nekat sejenisnya di
rumah pastori. Kepulangan kali ini dipicu oleh rasa sakit di punggung dan
tangan kirinya. Barangkali pemantiknya adalah kerna tergelincir dan terjatuh
saat menuruni gunung Soputan dua minggu lalu. Orang Minahasa bilang itu salese. Belum lagi dia duduk, ibunya
langsung mencecarnya dengan cerita-cerita miring tentangnya. Kata ibu Valeri,
cerita buruk itu bermula dari mulut pendeta Calvin kemudian menjangkit ke mulut
pendeta Mercy. Ibunya menerangkan dengan jelas. Tak sedikit pun ada tanda jika
cerita itu dikarang-karang. Namun, Valeri tak bicara banyak. Bekal ilmu yang dia
dapat waktu di bangku kuliah kiranya cukup untuk dimanfaatkan mengontrol emosinya. Tiga kali dia diurut oleh
pria tua di kampungnya. Dia diminta datang lagi besoknya. Tapi malamnya dia
hilang lagi dari pandangan mata warga kampung. Di malam yang sama dia kembali
berada di kota Wenang, Manado. Tak lagi pikir soal makan malam, sontak dia
membuka laptop-nya untuk bicara
dengan pendeta Calvin lewat akun media sosial. Dan sebuah kebetulan lagi. Nama pendeta yang
disebut temannya sebagai pengkhianat itu ada namanya di kotak obrolan.
“Pendeta, da bagimana tu depe cirita kong sampe pendeta usul ada diskusi
deng pemuda? Apa tu latar blakang?”
“Pendeta Mercy tanya ngana pe kabar kalu ada dimana. Soalnya
so jarang di kampung. Qta bilang mungkin kuliah soalnya ada di S2 UNSRAT dan
selama ini aktif di kegiatan budaya. Baru, muncul cerita kalu ngana so nda maso
gereja kata disana. Kita bilang so ada sto keyakinan baru. Dan itu yang perlu
didiskusikan. Nda bacarita tentang pemuda. Mar, mungkin penafsirannya sampai
kesana. Ibu sebagai pendeta, ta kira itu wajar untuk di kritisi dan di
dialogkan.”
Valeri jadi bingung. Bila membaca ketikan penjelasan
pendeta Calvin, tak ada yang salah. Memang ada sedikit yang sensitif. Lalu,
siapa yang berbohong? Kutipan pendeta Mercy tentang pernyataan pendeta Calvin
sangat berbeda dengan apa yang dibaca Valeri hari ini. Pendeta Mercy, setelah
Valeri konfirmasi, juga menyatakan bahwa pendeta Calvin sudah berdusta dengan
membantah kalau dia pernah bilang Valeri adalah penyesat dan sedang menyesatkan
para pemuda sekampungnya. Siapa yang berdusta? Apa ada seorang pendeta
berdusta?
Pernah pertanyaan itu Valeri tujukan pada kakaknya.
Sekonyong-konyong kakaknya bilang, “Apa ada pendeta berdusta? Ya ialah.
Banyak!!! Menurutmu, apa para pendeta kita pernah jujur dengan isi hatinya.
Menurutmu apa sogok menyogok dalam soal mutasi pendeta itu mereka buka di atas
mimbar? Menurutmu, apa mereka pernah mengaku kalau nafsu seks mereka sering
dipuaskan dengan beramahtamah dengan sesama hamba Tuhan yang kemudian berujung
pada perselingkuhan? Menurutmu, apa mereka mau mengakui kalau perseteruhan di
UKIT sebenarnya dilantarbelakangi oleh keinginan para pendeta untuk berkuasa?
Menurutmu, apa mereka pernah benar-benar jujur soal kuangan kas jemaat?”
Bukannya terobat kegundahannya. Malah bertambah oleh
karena pikiran-pikiran kakaknya itu. Valeri pun putus asa untuk mencari siapa
biang keladi perusakan nama baiknya. Gara-gara ulah dua pendeta itu para diaken
dan syamas ikut-ikutan menyebar kabar burung dalam kumpulan terkecil jemaatnya.
Pertemuan-pertemuan ibadah tak lagi menjadi wadah pemberitaan kabar keselamatan
sebagaimana amanat Yesus, justru menjadi tempat penghakiman terhadap terdakwa
yang sengaja tak dihadirkan. Ruang-ruang ibadah bukan lagi diisi dengan
penguatan-penguatan iman tapi dengan pembusukan-pembusukan insan. Serigala saja
enggan menerkam anaknya sendiri. Tapi para gembala ini justru beramai-ramai menelanjangi
dombanya sendiri. Domba yang bermasalah bukannya dikunjungi dan dibantu keluar
dari jerat malah ditendang masuk jurang yang curam.
Aneh bin ajaib. Ada seorang pemuda yang sudah jarang ke
gereja. Hobinya naik gunung dan melancong ke tempat-tempat indah ciptaan sang
Khalik. Dia mengagumi ciptaanNya. Dia juga gemar menulis di dinding-dinding
media sosial. Tak bisa dipungkiri tulisan-tulisan itu mengundang kontroversi
karena berisi kritik. Kritik untuk siapa? Kritik unutk semua orang. Termasuk
dia sendiri, Valeri. Barangkali, lantaran tak terima dikritik atau tersinggung,
berulahlah orang-orang tertentu. Menebar fitnah demi sebuah kemudahan untuk
keluarga.
Sebulan kemudian Valeri pulang kampung. Hari itu
berkenaan dengan hari Pengucapan Sukur
se-kabupaten. Yang dia lihat pada mata-mata orang sekampungnya tinggal
pandangan curiga dan amarah. Ternyata para pendeta itu telah berhasil. Dia juga
dengar, bukan hanya pendeta. Ada juga guru-guru yang pernah menjadi kawannya,
sewaktu masih mengajar dulu, yang ikut ambil bagian merusak namanya. Makanya
tak heran banyak murid yand dulu akrab dengannya kini menjauh seolah melihat
hantu bertaring. Tapi, Valeri masih saja santai. Bahkan dia menegur orangtuanya
yang sudah naik pitam. Entah apa yang ada di pikiran Valeri. Apakah dia telah
mewarisi kesabaran Ayub. Atau, mungkinkah dia menganggap soal itu enteng. Dia
sih enteng karena dia tak tinggal di kampung. Yang berat ya keluarganya -
orangtua dan adik kakaknya. Juga keponakan-keponakannya.
Valeri kini tak lagi banyak bicara. Mungkin menyalahkan
diri. Mungkin juga mengutuki orang-orang yang telah sampai hati menusuknya dari
belakang. Sikap pendiam itu kuperhatikan semakin menjadi saat dia tahu
orangtuanya telah beralih kepercayaan. Bukan. Sejatinya bukan beralih
kepercayaan. Hanya beralih tempat saja. Karena sesungguhnya Tuhan itu omnipresent, ada dimana-mana. Dulu
mereka setiap malam rajin membaca kitab bahasa Indonesia tulisan latin. Kini
kitabnya sudah berganti, kini kitab mereka ber-aksara Arab. Tembang-tembang
dari mulut mereka bukan lagi dari kidung jemaat melainkan solawat dan irama
padang pasir yang sarat dengan bunyi-bunyi kasidah.
======================
Minahasa,
12 Agustus 2014
Rabu, 19 Maret 2014
DOTI
oleh Iswan Sual
Di sebuah
gubuk kecil di tengah hutan. Pergilah kesana Tuama. Saat dia tiba tak nampak
seorang pun dalam gubuk. Pintu dan jendela yang terbuat bamboo itu tampak tertutup
rapat. Serombongan burung taun lewat
di langit yang kian pekat. Burung titicak terdengar ribut di dahan-dahan
pohon yang rimbun. Terdengar seperti debat kusir para wakil rakyat yang sama
sekali bukan sebagai upaya untuk memperbaiki nasib rakyat. Melainkan hanya
berkutat pada kepentingan sesaat mereka mumpung masih menjabat. Tuama sedikit
kecewa karena tak melihat orang yang perlu ditemuinya. Enggan dia melangkah
mendekat ke gubuk tua reyot itu. Apalagi gelap semakin dekat. Lebih baik pulang
sebelum malam tiba. Bisiknya pada
dirinya sendiri.
“Aweang
ona’ re’e perlu?[1]”
kata seorang kakek tiba-tiba.
Dengan
kaget Tuama menoleh ke arah suara serak dan agak kasar itu. Di hadapannya telah
berdiri seorang pria lusuh sedang memikul cangkul dan menjinjing tiga atau
empat singkong yang berukuran sedang-sedang saja. Tanah tebal masih menempel
pada singkong-singkong itu. Titik-titik cairan getah menetes dari ujungnya yang
sempat terluka oleh sabetan cangkul. Bagai jarum jam yang berdetak mengantar
mereka di lorong gelap.
“Eng karu’
e om![2]”
sedikit terbata-bata Tuama mulai menguraikan maksudnya.
Dipersilahkan
pria tua itu Tuama masuk ke dalam gubuknya. Gubuk dan orang yang tinggal di
dalamnya patut dikasihani. Gubuk itu rasanya tak cukup untuk melindungi mereka
dari dinginnya malam. Sela-sela pada dinding bambunya melebar setiap hari
berganti. Panas dan hujan bekerjasama dengan rayap-rayap menambah kelapukannya.
Barangkali besok atau lusa pria itu
harus segera membangun gubuk yang baru.
“Sebenarnya
kedatangan saya kesini ada kaitannya dengan rasa sakit yang sudah kualami
berhari-hari ini om. Aku sudah
mencoba pergi berobat ke kota. Seperti yang disarankan oleh pendetaku. Tapi,
kata dokter tak satu pun penyakit terdeteksi bersarang dalam tubuhku. Memang,
beberapa anggota keluarga sudah menyarankan agar aku langsung ke sini bulan
yang lalu karena mereka yakin bahwa yang aku derita ini bukanlah penyakit
biasa. Tapi setiap kali aku mulai keluar rumah, sepertinya si pendeta sudah
punya firasat, dia selalu mencegahku. Katanya, ‘Jangan mencari kesembuhan pada
berhala-berhala!’ Aku berusaha taat pada perkataannya. Tapi, rasa sakit di
telinga dan kepalaku mendesak agar aku segera mencari pertolongan lain. Karena
bagiku dokter dan dukun sama saja. Mereka adalah alat Opo Kasuruang Wangko.
Pendeta lebih mengajarkan perawatan dokter karena lebih masuk akal. Sementara
pengobatan tradisional, karena kurangnya pemahaman, dianggapnya sebagai
pekerjaan setan. Saya kadang heran. Ketidakinginan untuk belajarnya
menghalanginya untuk memahami model perawatan itu. Padahal penyembuhan lewat ibadah KKR pun sulit
untuk masuk dalam akal sehatku.“
Panjang
lebar Tuama bercerita kepada kakek itu. Termasuk kapan gejala penyakit mulai
dia rasakan. Semua penjelasannya hanya disambut dengan anggukan kepala. Tapi
mata kakek itu menyiratkan bahwa otaknya bekerja berat membuat kesimpulan-kesimpulan
yang mendekati kemungkinan. Dia lalu meminta Tuama pergi ke kebun dimana dia
selalu menghabiskan waktunya demi menggembalakan sapi.
“Mange an
terung an uma nu wo indongenu sanga kompol en amporang ambitu. Bungkusengio wo
aling mi’i. indong ki’i siou rosi. Ta’ang ca toro wo ca ro’na remoma’ a se tou
si pa’pesungkelennu,”[3] kata
kakek.
Tanpa
membuang waktu lagi Tuama pun bergegas pergi menuju kebunnya. Dia melakukan
semua persis seperti yang diarahkan. Dan dia kembali membawa abu sisa pembakaran
dan menyerahkannya kepada sang dukun. Saat dia kembali di atas meja telah
tergeletak dua piring pusaka yang
telah ditutup dengan kain merah. Di antara ke dua piring itu tergelar juga
sebuah keris emas kecil yang juga dililiti kain merah. Tuama sama sekali tak
terkejut dengan benda-benda itu. Karena semua itu selalu dilihatnya di rumah
kakeknya yang bernama Hero. Bahkan isi sompoi
kakeknya punya lebih banyak barang-barang lain. Barang-barang tak seorang pun
boleh menyentuhnya. Karena kesakralannya.
“Ada orang
yang marah padamu. Karena kamu tak mau bertukar sapi dengan dia. Dia sangat
suka dengan sapimu. Kain hitam yang dililit rambut ini kutemui dalam abu sisa
bakaran yang kamu bawa. Sakit yang kamu alami adalah ini penyebabnya…. Tapi
masih ada satu lagi. Coba buka mulutmu dan hembuskan nafas ke bunga ini….. ya
ternyata ini. Dia menyelipkan kepingan puntung rokok dan barang pecah belah ke
dalam tubuh dengan bantuan mahluk gaib. “
Tuama
berusaha menyangsikan uruaian sang dukun. Tapi, sakit yang dia derita berangsur
pergi. Kesembuhan telah terjadi. Tapi, tak sepata kata hujatan pun keluar dari
mulut sang dukun. Tuama pun ingat seseorang yang kerap berkunjung ke rumahnya.
Orang yang memaksakan kehendaknya agar mereka melakukan barter sapi. Hewan yang
Tuama gunakan sekali seminggu untuk batibo[4] ke
kota Kotamobagu. Negeri yang pernah menjadi pusat kekuasaan Loloda Mokoagow,
raja besar Bolaang Mongondow. Dia tak menyangka orang yang dipanggilnya kakak
itu tega melakukan praktik doti[5]
terhadap Tuama. Dia menggunakan wentel[6] untuk
mencelakai orang. Sungguh sangat bertentangan dengan ajaran tetua mereka.
Sebuah wentel adalah anugerah, pemberian cuma-cuma dari yang maha kuasa. Kini dipergunakan
untuk kejahatan.
“E Tuama.
Sa ico mesungkul si tou niitu. Ca toro ico ma’bow asia. We’e a si Opo Kasuruang
oka eng pamulengengnu. Kinela’ana kua sa sia semea’em.”[7]
Tuama
pulang dalam keadaan bingung. Bukan oleh karena perkataan sang dukun. Melainkan
perkataan pendeta yang melarangnya pergi ke dukun. Betapa kelirunya dia. Karena
ketidaktahuan dan ketidakmauan untuk belajarlah yang menyebabkan dia memiliki
prasangka buruk pada praktik yang adalah warisan leluhur itu. Ternyata, apapun
yang ada di dunia ini adalah ciptaan Tuhan yang bisa digunakan secara benar dan
salah. Wentel seumpama pisau. Bisa bermanfaat. Bisa mencelakakan. Kebenaran dan
kesalahan ternyata adalah soal tahu dan tidak tahu.
Tondei, 17
Maret 2013
[2] Iya benar Om! (Bhs
Tontemboan)
[3] Pergilah ke ladangmu dan
ambilah abu sisa sisa pembakaran di sebuah gubuk. Bungkuslah dan bawa kesini.
Bawa juga Sembilan kuntum bunga mawar. Namun, jangan bicara dengan siapapun
yang kamu temui.
[4] Berjualan langsung ke pasar
setelah melaksanakan perjalanan jauh.
[5] Menyebabkan orang lain
sakit, celaka atau mati secara mistik.
[6] Jimat
[7] “Nak, bila kamu bertemu
dengan orang itu. Tak usahlah kamu
memarahi dia. Serahkan pada Tuhan saja tanggungan dan penderitaanmu itu. Dia
telah menyadari kesalahannya.”
BERSAMA PRIA TUA DI SUATU SORE
oleh Iswan Sual
Lorong yang Karapi susuri sore itu nampak ramai. Beberapa orang berjalan dengan arah yang sama dan berlawanan dengannya. Kira-kira 50 meter jauhnya, terlihat olehnya seorang lelaki berpakaian putih berdiri di depan rumah. Lelaki itu bertubuh agak pendek. Kumisnya dibiarkan tumbuh. Namun tak terlalu tebal.
Rumah itu
memiliki kintal yang luas dan
dikelilingi pagar bambu yang dicat dengan warna bendera negara kami. Tak boleh
warna lain. Harus merah dan putih supaya seragam. Sungguh kontras dengan
semboyan negara, Bhineka Tunggal Ika,
berbeda-beda tetapi tetap satu. Semboyan yang menipu dan membodohi. Tinggal
sebuah slogan.
Senyuman
dengan gigi yang rapih jelas ditujukan kepadanya. Karapi membalas senyum itu.
Dia kenal, tentu saja, pria yang sudah berambut putih namun masih tegak berdiri
itu.
“Darimana
re’e? Singga dulu!” sapa lelaki tua itu.
“Dari
sebla. Da pimpin ibada kwa,” balas Karapi dengan ramah dan penuh hormat.
Ada rasa
bahwa orang tua yang berdiri di hadapannya adalah orang yang perlu dihormati
bukan hanya lantaran itu merupakan tuntutan adat istiadat. Lebih dari itu. Dia
merasa penghormatan mesti diberikan lantaran orang tua adalah Apo. Orang yang
patut dicontoh karena punya banyak pengalaman, pengetahuan, dan wibawa. Karapi
merasa bahwa Apo Mandor mewujud dalam diri orang tua itu. Padahal dia sendiri
tak sempat melihat Apo Mandor yang riwayatnya sangat melegenda di Wanua atau
kampungnya. Apo Mandor dikenal sebagai tonaas,
orang yang patut dicontoh, orang yang teguh karena memiliki mutu hidup seperti,
keter (kuat), niatean (berhati nurani) dan nga’asan
(memiliki pengetahuan dan kecakapan hidup).
Karapi
memutuskan mampir bukan karena hanya untuk berbasa-basi. Tiba-tiba diingatnya
bahwa ada hal-hal yang hendak dia tanyakan. Pertama berkenaan dengan silsilah
keluarga. Ayahnya memintanya untuk memperjelas apakah benar Apo Philep adalah
anak dari Apo Mandor atau hanya kemenakannya. Soanlya ada yang bilang bahwa Apo
Philep yang tinggal di desa Ongkau bukan anak kandungnya Apo Mandor. Memang itu
kedengarannya hal yang sepele. Tapi tidaklah demikian bagi Karapi. Dia mesti
mencari sebuah kepastian. Atau paling tidak sebuah kejelasan.
Melalui
pintu dapur Karapi masuk membeo di belakang pria tua tadi. Tak perlu menunggu dipersilahkan
duduk. Karapi merasa basa-basi itu tidak dibutuhkan karena mereka di rumah itu dianggapnya
serumpun. Berasal dari keluarga yang sama. Segelas kopi, tak lama kemudian,
disugukan oleh salah seorang menantu perempuan. Karapi tak mengenal perempuan
muda itu. Tapi dia yakin pasti dia adalah istri salah seorang anak pria tua
yang menjadi teman bicaranya. Belum lagi kopi diteguk Karapi, sepiring nasi
jaha telah disajikan. Nasi jaha tiada dibalut dengan daun pisang. Orang di
kampungnya menyebut itu nasi ja’a blanga.
Awalnya dua
orang dengan beda usia yang terlampau jauh itu bincangkan tentang tipisnya
peluang desa mereka untuk memiliki utusan dari kampung sendiri untuk menjadi
anggota dewan di kabupaten. Kedua-duanya menyesalkan empat orang-orang terdidik
sekampung yang mencalonkan diri yang tidak mau berembuk untuk mengakui mana
dari mereka yang lebih layak menjadi penyambung lidah rakyat dari desa, ro’ong kami. Masing-masing tak ada yang
mau mengalah. Mereka telah lebih setia pada partai yang memecahbelah. Partai
yang cenderung berpihak pada mereka yang kantongnya penuh emas. Karapi sendiri
lebih memilih calon yang bernama Kumayas. Sedangkan pria tua itu condong kepada
Sumangkut. Keputusan si pria beralaskan hubungan darah. Sedangkan keputusan Karapi
berlandaskan tingkat pendidikannya.
Karapi menganggap
bahwa pembicaraan mereka yang bertalian dengan politik itu tak usah diteruskan.
Apalagi mereka punya jagoannya yang berbeda. Tambahan lagi, tujuan utama Karapi
mampir bukan untuk bicara politik Indonesia yang sudah tak ada harapan lagi.
Politik hanyalah sebuah lelucon, kata Iswan Sual, seorang temannya yang pernah
menjadi korban pengeroyokan oleh beberapa politikus kampung yang menerapkan
metode machievelian ketika tahun lalu
menawarkan diri menjadi calon Ukung Tua di kampungnya. Iswan Sual adalah seorang
sarjana yang penuh semangat dan masih bujangan. Berumur tiga puluh tahun.
Berkampanye secara wajar. Tanpa menyebar uang sogokkan, pesta pora atau semacam
itu. Dia berikhtiar menyampaikan suara kenabian lewat tutur dan tindak. Namun,
ternyata orang di kampung halamannya. Akhirnya dia menyadari bahwa dia tak
pantas dan tak memenuhi kriteria manusia-manusia jaman sekarang. Yesus saja
ditolak di kampung halamannya. Apalagi hanya seorang Iswan Sual yang berayahkan
seorang petani dari golongan ekonomi menengah ke bawah.
“Tua, butul
re’e tu tete Pilep bukang tete Mandor pe anak?” kata Karapi setelah dua
tegukkan kopi mengalir masuk melalui tenggorokannya yang tak memiliki sesuatu
yang menonjol.
“O! baru
ki’i ini kong kita dengar!” jawabnya sedikit tertawa. Pria yang bernama Junus
Sual itu sangat terkejut. Jelas dia tak percaya dengan apa yang baru saja
diutarakan Karapi. Dia yakin betul. Keterangan mengenai keturunan dari Apo
Mandor dia peroleh langsung dari anak-anak Apo Mandor yang sempat
dikenaldekatnya seperti Apo Tertius, Apo Maruang dan Apo Saul. Bahkan ayahnya
dan saudara orang tuanya turut memperkuat tentang itu.
“Nyanda
mungkin no! Kita pe papa ja terangkan bae-bae. Kita besar di Tiniawangko. Dulu
dorang bilang tu kampung itu Mangowa. Tu Tiniawangko itu torang pe Apo Mandor
yang buka. Dia kwa dulu Blanda angka jadi Mandor. Dorang yang buka tu sinia’
wangko’ deng tu Kobio’ yang so jadi kobong Ongkau skarang. Makanya sala satu tu
depe anak korang da kaweng, tinggal deng mati di Ongkau. Tu sala satu depe
anak, kita pe papa ya itu, tinggal di Tiniawangko jadi pegawai perusahaan karet
di Tiniawangko. Waktu itu masi goro. Blum da tanang akang klapa. Orang Blanda
dulu ja bilang kalu mo ganti klapa mo banya orang yang mo jadi papancuri. Serta
kita lia, butul karu ya tu Blanda," urainya panjang lebar.
Topik mereka
selanjutnya berganti-ganti. Pria tua yang lebih banyak bicara. Sedangkan Karapi
memilih menjadi pendengar setia. Sebab dengan begitu dia akan membawa pulang
kekayaan yang tiada ternilai harganya, warisan ingatan tentang leluhurnya. Sebuah
tuturan yang menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dan kini. Kadang
dituturkannya dengan bangga tentang pengalamannya sewaktu masih menjadi tentara
Permesta. Katanya beberapa kali dia ditangkap oleh musuh. Dan ditembak tapi
nyawanya selamat karena dia menaati apa yang diajar oleh Apo-aponya. Dengan
bangga dia mengaku bahwa dia kadang membawa sompoi
Apo Hero Timporok sewaktu Apo masih hidup. Juga diceritakannya tentang dirinya
yang nyaris kaya dari kupeso karena bertapa di kuburnya Apo Mandor.
“Kita dulu
itu blum bapegang wentel. Karna blum cukup umur. Nanti smo brangkat ka Jawa
kong dapa. Mar, biar blum ada tu da kase ika-ika di badan mar dorang tete ja
datang babise-bise pa kita pe talinga, ‘Ca toro mainde-inde e poyo’, jang tako
e cucu!’.
Karapi
pulang saat matahari telah ditelan ufuk barat. Hari itu dia dilanda rasa
gembira yang luar biasa oleh karena cerita-cerita heroik. Cerita-cerita mirip
itu sering ditontonnya di TV. Seperti film tentang manusia-manusia super yang
diangkat dari cerita komik Amerika Serikat yang dinikmatinya sewaktu kecil.
Karapi pulang dengan rasa puas. Namun masih haus akan cerita-cerita lain yang
belum didengarnya.
Langganan:
Postingan (Atom)











































